Jumat, 14 Oktober 2016

REVIEW: LEMONGRASS RESTO


Yeaaahhh....
 
Ini adalah tulisan pertama saya yang akan berisikan pengalaman dan review saya pada saat berkunjung ke suatu tempat. apapun, bagaimanapun, dan dimanapun tempatnya. Niscaya selanjutnya, tema tulisan review ini akan menjadi salah satu topik dalam blog saya.

Dan... yang menjadi korban tulisan “review” perdana saya kali ini adalah LEMONGRASS RESTO. Restoran ini mengambil tempat di Jalan Raya Padjajaran Nomor 21, Kota Bogor. Lokasi tepatnya langsung via Google Map aja yah gaes. 



Oke. First thing first, Saya agak bingung saat melafalkan nama restonya. Apakah lemon-gras? lemong-ras? lem-ongras? lemongras? atau le-mongras?? 
Soalnya tulisannya digabung men... Kalo tulisannya digabung seperti itu, bisa jadi saya akan membacanya dengan “lemongras” duonk. Iya deh.. Mungkin buat beberapa orang ini gak penting, tapi buat saya, ini juga gak penting sih hehehe.. 
Cuma ya.. agak janggal aja kalo dibacanya dengan langsung disambung. lemongras. Lafal yang aneh untuk sebuah resto.

Kebetulan saya kesana bersama seluruh anggota Keluarga Rempong (ini sebutan khusus buat keluarga kecil saya). Keluarga Rempong terdiri atas:
  1. Saya selaku Presiden Direktur merangkap driver dan juru cuci;
  2. Nyonya selaku Menteri Koordinator Perekonomian, Sumber Daya, Informasi, dan Kerumahtanggan (Menko Perusaktangga); dan
  3. Mbak Bos K selaku ... pupuk bawang.
Keberadaan resto ini diketahui berdasarkan informasi yang didapatkan langsung dari instagram oleh Menko Perusaktangga. Poto-poto yang ditampilkan sih oke punya dan instagramable. Menko Perusaktangga jelas penasaran untuk berkunjung kesana donk. Setelah melancarkan lobi sana-sini dengan ancaman, akhirnya kami sepakat untuk berangkat ke sana.

Tanggal 1 Oktober 2016 adalah tanggal yang kami pilih untuk berkunjung kesana. Informasi yang kami dapat bahwa resto ini selalu ramai ketika jam makan siang dan jam makan malam. Lebih rame lagi kalo malam minggu. Ramainya bisa ampun-ampunan. Masalahnya adalah, kami kesananya pas malam minggu.

Mengetahui hal itu, akhirnya kami berangkat ke sana sorean. Jam setengah 5 kami sampai ke TKP dan whaallaaa.... Tampilan awal restonya bagus banget. Selesai parkir, kawan-kawan akan langsung disuguhi suasana asri yang menenangkan hati (halaaahhh). Kami sempat kebingungan saat mencari pintu masuknya karena memang tidak ada tanda dimana pintu masuknya. Eh, ternyata pintu masuknya ada disisi sebelah kanan resto ini. Cukup sempit karena hanya memuat 2 orang tapi instagramable banget. Secara sok pilosopi saya, lorong ini sengaja didesain untuk memberi informasi awal kepada para pengunjungnya bahwa ada kejutan yang akan kalian dapat.


"Lorong Masuk"


Dan... benar. Ramenya udah ampun-ampunan. Kami sudah masuk waiting list dengan urutan nomor 10. Apa kabar kalo kami dateng habis maghrib?? Ternyata resto ini memang cukup populer juga yaa.. Ada space yang disediakan pihak resto untuk pengunjung yang masuk kategori waitinglist. Tidak ada tempat duduk tapi disediakan sandaran untuk bersandar (ya iyalah...) 

Akhirnya setelah setengah jam menunggu, kursi kami pun sudah tersedia. Dann...kami ditempatkan di posisi yang mantep banget karena langsung berhadapan dengan area taman. 




Saran kami, kalo mau menikmati makan malam, hindari makan di area tamannya yaa.. Lumayan remang-remang soalnya. Jadi agak susah membaca menunya dan agak susah melihat lawan bicara kita. Well..tapi itu selera juga sih.. 

Menurut saya, spot yang paling baik di Lemongrass Resto adalah spot yang saya duduki sekarang. Eh tapi ada yang lebih baik lagi sih. Di pojokan bawah sebelah kiri tangga yang ke area taman. Itu lebih mantep lagi. Sayang, rezeki kami disini. 

Pemandangan di hadapan kami adalah kolam air mancur dan tempat makan di area makan. Kalo malam bagus banget. Sayangnya kalo malam, posisi kolam agak tidak terlihat karena ya remang-remang itu. Pas kami datang, ada anak yang tercebur kesana karena memang tidak terlihat dari jauh. Jadi saran buat pengelola Lemongrass Resto, tolong untuk area kolam di deket taman bisa diterangin atau diapain gitu supaya pengunjung bisa lebih aware kalo disitu ada kolam. Biar lebih safety buat pengunjung lah.


Pelayan dengan ramah memberikan menu kepada kami. Dari daftar menu dan suasana resto dapat dilihat bahwa resto ini memang sangat cocok untuk bercengkerama bersama keluarga atau teman2. Tapi tidak untuk pengunjung yang niatnya memang untuk makan saja. Menu makanan beratnya tidak terlalu banyak. Nah..karena kami membawa Si Pupuk Bawang yang mulai kelaparan, tanpa berlama-lama, akhirnya kami memilih I fu mie Ayam, Chicken Wing, French Fries, Onion Rings, Nasi, dan Avocado Juice.







 "Ini sudah diambil 5 biji"

Bagaimana rasa makanannya?? Sesuai dengan suasananya. Uenak tenaann... Recommended lah. Salah satu pertanda bahwa suasananya nyaman dan makanannya enak adalah Si Pupuk Bawang bawaannya happy trus joget-joget deh.. 

Bagaimana harganya?? Masih wajarlah ya..range harganya antara IDR 19K sampai IDR60K per menu. Tapi dengan suasana yang didapatkan, masih worth it lah yaa.

Overall, resto ini saya beri nilai 8,5/10. Cucok banget kalo bawa keluarga besar atau teman. Tapi inget jam sibuknya yaa.. Sebaiknya reservasi dulu kalo memang ingin berkunjung pas jam sibuk.

Nah, ini sedikit dokumentasi untuk review resto ini. Anak Istri bahagia = Resto enak.






 




Nah, demikian sedikit review dari saya. Semoga bermanfaat buat yang mau nguliner di area Bogor dan sekitarnya.

See ya di tulisan selanjutnya yaa... Tanggapan, kritik, dan saran, langsung di kolom komentar yaa.. Jangan lupa isi juga polling di bawah kolom komentar yaa..


Cheers,

Rabu, 12 Oktober 2016

BELAJAR HUKUM: SEMUA SAMA DI MATA HUKUM

Baru-baru ini, ramai pake bingits di linimasa, berita tentang seorang pejabat tinggi madya di lingkungan Kementerian Hukum dan HAM menggugat ke pengadilan seorang pengusaha laundry kiloan karena jas dan batiknya yang “rusak’ setelah dicuci di laundry kiloan tersebut. Trus gugatannya diunggah, digoreng media cetak maupun online, dan whaaallaa...jadilah seperti ini..
Tulisan ini tidak akan membahas siapa yang benar dan siapa yang salah. Tulisan ini akan membahas tentang hak menggugat seorang pejabat. Pasca berita tentang pejabat menggugat pengusaha kiloan ini viral, banyak hujatan dan komentar negatif yang muncul oleh netizen dan masyarakat. Tentu ini ditujukan kepada pejabat tersebut.


Setelah dibaca, rerata komentar masyarakat adalah pejabat tersebut arogan, jahat, dsb karena menggugat rakyat kecil. Ada anggapan masyarakat kalo seorang manusia yang kebetulan menjadi pejabat dianggap arogan kalo menggugat masyarakat yang-selalu-dianggap-kecil-dan-lemah. In My Humble Opinion, ini sesat banget. 

Sesuai dengan Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum, maka seluruh tindakan harus berlandaskan, dilaksanakan, dan dipertanggungjawabkan secara hukum. Dalam BAB XA Pasal 28D ayat (1) UUD 1945 juga menyebutkan bahwa “setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakukan yang sama di hadapan hukum”. 

Dari pasal-pasal tersebut menyebutkan secara jelas bahwa tidak ada pembedaan manusia di mata hukum. Iyalah..liat deh frasenya. “SETIAP ORANG” bla..bla..bla.. Dalam RBG/HIR atau biasa disebut Kitab Undang-Undang Hukum Acara Perdata, tidak disebutkan pembatasan dalam klasifikasi latar belakang penggugat. Artinya semua orang bisa menggugat di pengadilan. Mau dari latar belakang pengusaha, tukang bakso, bahkan presiden, semua sama di mata hukum. Tidak ada pembedaan.

Baca juga: Angkatan Geser

Jadi tindakan yang dilakukan sama pejabat ini sebenarnya sah-sah saja. Tidak ada yang salah. Masih ingat ketika SBY ketika menjabat sebagai presiden melaporkan dugaan “hate speech” ke polisi? Atau banyaknya kasus seorang istri yang menggugat cerai suaminya? Kira-kira samalah seperti itu.

Mengenai besaran gugatan ganti rugi?? nah ini yang harus diluruskan. Besaran gugatan ganti rugi secara hukum diserahkan ke penggugatnya. Biasanya ada dua tipe gugatan ganti rugi. Ganti rugi materiil yang lebih ke arah kerugian yang dialami langsung oleh penggugatnya. Yang kedua adalah ganti rugi immateriil yang hitungan besarannya dihitung berdasarkan kerugian tidak langsung atau akan terjadi. Makanya rerata gugatan ganti rugi immateriil ini besarannya bisa gak karu-karuan. Faktanya, seringkali hakim dalam memutus besaran ganti rugi, hanya memperhatikan gugatan materiilnya.

Lalu mengapa netizen menghujat tindakan pejabat ini??

Ada beberapa hal yang menyebabkan publik beropini sedemikian negatifnya. Yang pertama adalah latar belakang praktik hukum yang seringkali tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Karena merasa senasib sepenanggungan, ya muncullah “jiwa korsa” ini. Meskipun ini juga tidak bisa dijadikan pembenaran. 

Yang kedua adalah faktor media. Prinsip bad news is a good news benar-benar digunakan oleh media saat ini tanpa memperhatikan prinsip cover both side. Belum lagi judul berita yang dibuat sangat bombastis padahal isi beritanya bahkan tidak sebombastis judulnya. Terutama media online nih. Judul berita kok kayak Koran Lampu Merah. 

Yang ketiga adalah kebiasaan kita semua membaca dan men-share berita HANYA dengan membaca judulnya tanpa melihat substansi atau melakukan “kerennya” tabayyun dulu. Belum lagi ditambah dengan komentar-komentar yang justru memprovokasi dan memperpanas situasi. Iya kalo beritanya benar, kalo beritanya salah kan kasihan yang jadi korban. Kita juga turut serta melakukan fitnah, bullying, bahkan pembunuhan karakter. Ini kejam.  Sayangnya kita seringkali tidak merasa seperti itu.


Yah, moral story dalam tulisan kali ini adalah di mata hukum, SETIAP ORANG memiliki kedudukan yang sama. Yang kedua, waspadalah kalo nge-share berita yang belum ketahuan benar atau tidaknya. Crosscheck atau tabayyun dulu..

Okelah..

See yaa di tulisan selanjutnya...